Lewati ke konten
Ravington
Kembali ke berita
Kesehatan

Penipuan Ayushman Bharat: Mengapa India Melindungi Dokter, Bukan Pasien

The Probe
WhatsApp

Pada 23 Juni 2026, Departemen Kehakiman AS (DOJ) mendakwa 455 orang, termasuk 90 dokter dan profesional berlisensi, dalam operasi penindakan penipuan layanan kesehatan senilai USD 6,5 miliar yang menjangkau 45 negara bagian. Ini adalah operasi terbesar dalam sejarah dengan partisipasi rekor unit penipuan Medicaid. Para terdakwa diduga mengajukan klaim palsu, mulai dari perawatan luka yang tidak perlu hingga layanan hantu untuk pasien yang sudah meninggal. Kasus paling mengerikan melibatkan ahli jantung Jason Finkelstein yang memberikan tes tidak perlu kepada mahasiswa atlet dan menandatangani hasil sebagai normal tanpa membaca, menyebabkan kematian seorang pasien muda. Operasi ini menunjukkan tekad AS untuk menuntut penipuan layanan kesehatan, meskipun kritikus mencurigai motif politik.

Sebaliknya, India menghadapi realitas yang sangat berbeda. Regulator medis, Komisi Medis Nasional (NMC), dibentuk pada 2020 sebagai pengganti Dewan Medis India (MCI) yang korup, tetapi kritikus menyebutnya hanya perubahan nama tanpa reformasi nyata. MCI dibubarkan pada 2010 setelah presidennya ditangkap karena menerima suap. NMC menunjukkan masalah serupa: pada 2025, CBI mengungkap kolusi antara pejabat kesehatan dan perguruan tinggi swasta, di mana inspektur menerima suap. Konsentrasi kekuasaan terpusat dan kelambanan birokrasi melumpuhkan lembaga tersebut.

Tingkat regulasi yang lebih rendah bahkan lebih tidak efektif. Dewan Medis Maharashtra menerima 219 pengaduan terhadap dokter terdaftar antara 2022 dan Agustus 2025, termasuk tuduhan kelalaian, malpraktik, dan sertifikat palsu. Dari jumlah tersebut, hanya dua yang ditindaklanjuti, keduanya dari tahun 2022, yang berarti tingkat penyelesaian kurang dari satu persen. Dewan membela kelambanan ini sebagai harga dari proses quasi-yudisial, tetapi bagi pasien, ini adalah kekosongan. Kesenjangan antara pengaduan dan kasus yang diselesaikan sangat besar.

Yang lebih memprihatinkan adalah ketidaksetaraan perlakuan antara dokter dan pasien di hadapan hukum. Sejak NMC didirikan, Dewan Etika dan Registrasi Medisnya telah menerima dan memproses 185 banding yang diajukan dokter terhadap keputusan dewan negara bagian, sementara menolak semua 256 banding yang diajukan pasien atau kerabat mereka. Alasannya: hanya "praktisi" yang berhak mengajukan banding. Ini menciptakan sistem di mana dokter memiliki forum nasional, sementara yang berduka menghadapi pintu tertutup. Peraturan etika 2002 menjanjikan akuntabilitas, tetapi kenyataannya adalah klub yang mengadili keluhan terhadap anggotanya sendiri.

Sisi peradilan pidana bahkan lebih timpang. India memperkirakan 5,2 juta insiden malpraktik per tahun, tetapi hanya sekitar seribu kematian akibat kelalaian yang tercatat. Dokter jantung palsu meninggalkan korban jiwa, dan skema asuransi unggulan Ayushman Bharat sangat bocor sehingga 750.000 "penerima manfaat" berbagi satu nomor telepon. Sementara AS menuntut dokter nakalnya, India melindungi mereka. Artikel ini bertanya mengapa satu sistem mengadili dokter buruknya sementara yang lain memberi mereka perisai. Jawabannya terletak pada keengganan institusional yang mendalam untuk menindak profesi sendiri.

Tanya tentang berita ini

Jawaban AI hanya dari berita ini.

Ini ringkasan singkat buatan AI. Artikel lengkap ada di sumbernya.

Baca selengkapnya di sumbertheprobe.in

Berita terkait