
British American Tobacco (BAT), perusahaan tembakau raksasa, mengumumkan akan memberhentikan 5.500 karyawan di seluruh dunia. Langkah ini merupakan bagian dari program restrukturisasi besar-besaran yang bertujuan untuk memangkas biaya dan beralih ke produk-produk seperti rokok elektronik dan kantong nikotin. Keputusan ini diambil di tengah menurunnya konsumsi rokok tradisional akibat regulasi yang lebih ketat dan perubahan kebiasaan konsumen.
BAT berencana mengalihkan ribuan pekerjaan ke pihak ketiga untuk lebih menekan biaya operasional. Perusahaan menekankan bahwa restrukturisasi ini diperlukan untuk tetap kompetitif dan mempercepat transisi menuju alternatif bebas asap. Karyawan yang terkena dampak akan diberi tahu dalam beberapa bulan ke depan, dan BAT berjanji akan memberikan dukungan sosial yang memadai.
Pengumuman ini mengejutkan industri, mengingat BAT adalah salah satu perusahaan tembakau terbesar di dunia. Para analis melihat langkah ini sebagai respons terhadap penurunan konsumsi rokok di banyak negara maju. Pada saat yang sama, BAT terus berinvestasi besar-besaran dalam pengembangan dan pemasaran produk seperti vape dan kantong nikotin yang dianggap tidak terlalu berbahaya.
Namun, para kritikus menilai bahwa BAT masih sangat bergantung pada produk tembakau tradisional dan transisi ke alternatif bebas asap berjalan lambat. Selain itu, PHK massal ini dikhawatirkan akan membebani perekonomian lokal di daerah-daerah yang terkena dampak. BAT mempekerjakan sekitar 50.000 orang di seluruh dunia, dan kini lebih dari sepuluh persennya akan kehilangan pekerjaan.
Restrukturisasi di BAT merupakan bagian dari tren yang lebih besar di industri tembakau, yang harus beradaptasi dengan menurunnya angka perokok. Pesaing seperti Philip Morris International telah mengambil langkah serupa. Apakah strategi BAT akan berhasil, akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan seiring pertumbuhan pasar produk bebas asap.
Tanya tentang berita ini
Jawaban AI hanya dari berita ini.
Ini ringkasan singkat buatan AI. Artikel lengkap ada di sumbernya.
Baca selengkapnya di sumbertr.euronews.com