
Para peneliti telah mengembangkan metode untuk mendeteksi wajah yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) dengan lebih akurat. Dengan melatih orang untuk memperhatikan isyarat visual tertentu, kemampuan mereka dalam mengenali wajah buatan AI hampir dua kali lipat lebih baik. Studi ini menunjukkan bahwa manusia dapat belajar mengidentifikasi ketidakwajaran halus pada gambar AI.
Para ilmuwan mengidentifikasi petunjuk visual spesifik yang sering muncul pada wajah buatan AI. Ini termasuk ketidakteraturan di area mata, bayangan asimetris, atau tekstur kulit yang tidak alami. Ciri-ciri ini sering sulit ditangkap oleh mata manusia, tetapi dapat dikenali dengan pelatihan.
Dalam eksperimen terkontrol, peserta pertama kali dihadapkan pada gambar asli dan buatan AI tanpa petunjuk. Tingkat akurasi mereka sekitar 50 persen, hampir tidak lebih baik dari tebakan acak. Setelah pelatihan singkat yang berfokus pada isyarat visual tersebut, akurasi meningkat menjadi lebih dari 80 persen.
Hasil ini memiliki implikasi praktis untuk menangani deepfake dan media sintetis. Di era media sosial dan komunikasi digital, kemampuan mendeteksi konten buatan AI menjadi semakin penting. Metode ini dapat digunakan dalam pelatihan untuk jurnalis, petugas keamanan, atau masyarakat umum.
Namun, para peneliti menekankan bahwa model AI terus ditingkatkan. Meskipun wajah AI saat ini masih memiliki kekurangan yang terlihat, generasi mendatang mungkin akan lebih realistis. Oleh karena itu, penelitian berkelanjutan diperlukan untuk mengimbangi perkembangan teknologi.
Tanya tentang berita ini
Jawaban AI hanya dari berita ini.
Ini ringkasan singkat buatan AI. Artikel lengkap ada di sumbernya.
Baca selengkapnya di sumberscientificamerican.com