
Belum lama ini, sebagian besar pengunjung di Kuala Lumpur akan kesulitan menjelaskan apa itu masakan Guizhou. Namun kini, di Petaling Street, meja-meja di Wawafish dipenuhi pelanggan yang menikmati mangkuk sup asam dengan mi kenyal, hidangan khas dari provinsi Guizhou di barat daya Tiongkok. Kaldu khas restoran ini, yang dibuat dari tomat fermentasi dan sayuran acar, memberikan profil rasa yang terasa sangat berbeda dari daging panggang Kanton, mi Hokkien, dan dim sum yang sejak lama mendefinisikan makanan Tiongkok bagi banyak orang Asia Tenggara.
Wawafish bukanlah kasus yang terisolasi. Di seluruh Asia Tenggara, restoran yang mengkhususkan diri pada masakan dari Yunnan, Hunan, Guizhou, Shaanxi, dan Xinjiang menarik perhatian yang semakin besar. Pengunjung mengantre untuk hidangan Yunnan, mi tarik dari Xi'an, dan tumisan pedas Hunan yang penuh cabai segar. Tren ini mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam cara Asia Tenggara memahami masakan Tiongkok. Selama beberapa generasi, persepsi kawasan terhadap makanan Tiongkok dibentuk oleh komunitas dominan yang pertama kali bermigrasi dari Tiongkok. Saat ini, pariwisata, media sosial, dan selera petualang untuk rasa baru memperkenalkan orang Asia Tenggara pada peta kuliner Tiongkok yang jauh lebih luas.
Untuk memahami mengapa masakan regional Tiongkok baru sekarang menemukan audiens yang lebih luas, ada baiknya melihat sejarah migrasi Tiongkok di Asia Tenggara. Antara abad ke-19 dan awal abad ke-20, jutaan migran meninggalkan provinsi pesisir selatan Tiongkok untuk mencari pekerjaan dan peluang di luar negeri. Sebagian besar berasal dari Fujian, Guangdong, dan Hainan, mendirikan komunitas di Malaysia, Singapura, Indonesia, Thailand, dan Vietnam saat ini. Para migran ini membawa tradisi kuliner Hokkien, Kanton, Teochew, Hakka, dan Hainan. Seiring waktu, masakan-masakan itu beradaptasi dengan bahan dan selera lokal, menciptakan banyak hidangan yang kini dianggap sebagai makanan pokok budaya kuliner Asia Tenggara.
Misalnya, nasi ayam Hainan dan bak kut teh menjadi favorit rumah tangga di Malaysia dan Singapura. Banyak hidangan mi, sup, dan tumisan juga berevolusi melalui generasi adaptasi. Ketika komunitas-komunitas ini menjadi mapan, masakan mereka secara efektif menjadi wajah makanan Tiongkok di Asia Tenggara. Hasilnya adalah sebuah paradoks: Masakan Tiongkok bisa dibilang salah satu tradisi kuliner paling beragam di dunia, namun banyak pengunjung di luar Tiongkok hanya menemukan sebagian kecil darinya.
Popularitas masakan regional Tiongkok yang meningkat di Asia Tenggara tidak terjadi dalam ruang hampa. Hal ini didorong oleh kombinasi peningkatan perjalanan, paparan media sosial, dan gelombang bisnis Tiongkok yang berekspansi ke kawasan ini. Wisatawan Tiongkok tetap menjadi kehadiran utama di seluruh Asia Tenggara, sementara kota-kota seperti Kuala Lumpur, Johor Bahru, Bangkok, dan Singapura juga melihat peningkatan jumlah pengusaha Tiongkok yang membuka restoran, kafe, dan bisnis ritel. Secara alami, mereka membawa konsep makanan yang tidak dikenal di luar Tiongkok beberapa tahun lalu. Pada saat yang sama, platform seperti Xiaohongshu, Douyin, dan TikTok menyebarkan penemuan kuliner baru ini, membuat hidangan regional Tiongkok dapat diakses oleh khalayak luas.
Tanya tentang berita ini
Jawaban AI hanya dari berita ini.
Ini ringkasan singkat buatan AI. Artikel lengkap ada di sumbernya.
Baca selengkapnya di sumberradii.co