Lewati ke konten
Ravington
Kembali ke berita
Dunia

Bagaimana China Memenangkan Perang Sumber Daya

Novara Media
WhatsApp

Artikel ini membahas pentingnya mineral kritis untuk transisi hijau, militer, dan ledakan AI. Litium dan logam tanah jarang telah menjadi salah satu objek yang paling diperebutkan di bumi dalam waktu singkat. Namun, kelangkaan ini dibuat secara artifisial – oleh kilang, titik-titik kemacetan, dan negara-negara yang mengendalikannya. Richard berbicara dengan Thea Riofrancos, penulis "Extraction: The Frontiers of Green Capitalism", tentang apa sebenarnya mineral ini, lanskap yang hancur yang menjadi dasar transisi hijau, dan geopolitik baru ekstraksi.

Transisi hijau membutuhkan mineral dalam jumlah besar seperti litium, kobalt, dan logam tanah jarang. Mineral ini penting untuk baterai, turbin angin, dan kendaraan listrik. Pada saat yang sama, mineral ini juga sangat diperlukan untuk aplikasi militer dan industri AI. Permintaan meningkat pesat, namun pasokan sangat terkonsentrasi. China mendominasi pemrosesan dan pemurnian banyak mineral ini, memberikan negara itu pengaruh strategis. AS dan Eropa berusaha mengurangi ketergantungan mereka, tetapi membangun kapasitas sendiri membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Kelangkaan artifisial diciptakan melalui investasi yang ditargetkan di kilang dan infrastruktur. China telah berinvestasi sejak awal di seluruh rantai pasokan, dari tambang di Afrika hingga pabrik pemrosesan di dalam negeri. Dengan demikian, China menguasai sebagian besar produksi global. Negara lain seperti Australia dan Chili memang menambang bahan mentah, tetapi pemrosesan biasanya dilakukan di China. Ketergantungan ini membuat rentan, seperti yang ditunjukkan oleh pembatasan ekspor China baru-baru ini pada logam tanah jarang.

Thea Riofrancos berpendapat bahwa kapitalisme hijau didasarkan pada eksploitasi sumber daya dan tenaga kerja di negara-negara Selatan. Tambang di negara-negara seperti Republik Demokratik Kongo atau Bolivia sering dikaitkan dengan kerusakan lingkungan dan pelanggaran hak asasi manusia. Transisi hijau dengan demikian mereproduksi ketidaksetaraan lama. Pada saat yang sama, ketegangan geopolitik baru muncul ketika negara-negara seperti AS berusaha mengamankan pasokan mereka sendiri. Kapitalisme negara ala Trump dan proteksionisme adalah konsekuensinya.

Masa depan kebijakan sumber daya akan ditentukan oleh beberapa faktor: inovasi teknologi, daur ulang, dan pencarian alternatif. Namun dalam jangka pendek, ketergantungan pada mineral kritis tetap ada. China telah memposisikan dirinya sebagai pemimpin pasar yang tak terbantahkan, sementara negara lain harus mengejar ketertinggalan. Perang sumber daya telah menjadi isu sentral dalam politik internasional, dengan konsekuensi luas bagi ekonomi, lingkungan, dan keamanan. Transisi hijau hanya dapat berhasil jika masalah sumber daya diselesaikan secara adil dan berkelanjutan.

Tanya tentang berita ini

Jawaban AI hanya dari berita ini.

Ini ringkasan singkat buatan AI. Artikel lengkap ada di sumbernya.

Baca selengkapnya di sumbernovaramedia.com

Berita terkait